Sawah-sawah dibajak
Oleh si tengkulak
Benih-benih padi menghujam tanah
Jatuh satu persatu sebelum waktunya
Segumpal daging menganga
Berteriak dalam bisu
Kepingannya telah sirna
Degupnya menipu
Sudah sembilan pulang raga terpisah dengan tanah yang melahirkannya. Suaka atas kegelisahan dan kenyataan hidup. Berat di sana belum tentu tidak di sini. Sembilan bulan ini berada di negeri asing, rela berpayah-payah di bawah langit yang terang benderang dan membuyarkan sisa pertahanan tubuh, atau menggigil di jam dua belas siang di puncak musim dingin, menulis tangan selama dua setengah jam di hari ujian, atau memasak makanan untuk sebelas orang. Pertama kali semua kucecap di sini. Mengasingkan diri di negara padat penduduk dan berteman dengan orang asing yang kutemui di sebelah bangku stasiun atau di deret yang sama dalam bus kambing, naik taksi berdelapan menuju Kashmiri Gate dan berkejaran dengan malam ke perbatasan India-Pakistan, menemukan teman-teman perjalanan yang lebih dari menyenangkan, saling menjaga ketika yang lain menggigil demam. Ah perjalanan yang sulit dan batu runcing yang menusuk-nusuk kakiku di sini tidaklah seberapa dengan mahalnya sebuah pengalaman.
Pertama kali aku bertemu dengan sejuta harapan, perih ditinggalkan tidak begitu terasa kala kebahagiaan dapat dibagi dengan teman-teman. Yoki, Ishak, Paim, Tere, Mopi, Bang Didi, Mas Sugih dan Mbak Rani dari PPI Jerman, Kang Deden dari PPI Turki yang ternyata sekampung denganku, Perjalanan menyebalkan dengan perwakilan PPI yang juga kuliah di Harvard itu, berebutan momos di sarojini atau tertawa terpingkal-pingkal dengan Satya saat membeli boots di Charles and Keith. Aku akan rindu. Ah, belum tahun terakhir saja sentimentalitasku beterbangan ke puncak imajinasi. Tapi ini adalah upaya menghargai dan menikmati, bahwa perjuanganku dengan birokrasi terpayah sekali pun dapat kuurai dengan hadirnya tawa yang dibagi bersama para pejuang pendidikan di sini. Dan lagi jika ingat malam sebelum cultural program, di saat persahabatan PPI Komisariat yang hobinya perang dingin pun dapat dicairkan. Aku memasak untuk mereka sepulang sekolah meskipun lelah masi mendera seluruh tubuh yang berpeluh-peluh. Selamat atas kelulusannya Bang Kamal, Bang Ilyas dan ketua PPI kami, Bang Soleh. Terimakasih atas sebuah keluarga yang amat menyenangkan selama ini. Terutama Bang Soleh, makasih telah meyakinkanku untuk bertahan setelah hari kelimaku berada di India yang hampir saja membuatku menyerah, terimakasih sudah membantu menerjemahkan bahasa Hindi dan bahasa kegelisahanku. Duduk di vespa di belakangmu sambil menahan tangis sembilan bulan yang lalu tak pernah kuduga bisa sejenaka ini. selamat kembali ke kampung halaman dan berkaryalah di sana!
Tapi aku akan kembali. Meneruskan jejak kaki dan siapa tahu aku bisa menelurkan sebuah karya di sini? Hatiku, tegarlah, masih ada sebelas bulan penuh hingga tahun depan untuk memperkaya cawan di kepala. Aligarh, we only part to meet again! ;)
Mataku sipit, kulitku kuning langsat, kata orang aku mirip etnis Tionghoa. Padahal aku asli Sunda. Sedang kepincut Joko, pria sederhana asal Madiun. Banyak yang bilang aku ini anti ‘mainstream’, ibarat perempuan harusnya sibuk berbelanja item fashion, aku malah sibuk melihat-lihat isi dibalik mesin pemotong rumput dan onderdil sepeda. Jadi teringat hari Jumat siang minggu lalu. Waktu yang sama bertemu mata sendu lelaki Jawa ‘medok’ itu.
Joko terlihat muram siang itu. Tadinya aku tidak peduli, tapi lama-lama pundakku terasa dingin, sepertinya hawa kesedihannya berlabuh dan meluruh di sepanjang pundakku yang saat itu keberatan menggendong ransel yang berisi panduan memodifikasi sepeda. Aku berbalik, menghampirinya, tanpa ba-bi-bu kusodorkan tangan kananku, “Aku Cinta.” Seperti orang tersedak ia melihat ke arahku, memicingkan mata, seolah tidak percaya. Ada perempuan semanis aku yang menyapanya saat ia tenggelam dalam lamunan beratnya kehidupan. Setidaknya itu yang kudengar darinya saat kemarin meneleponku.
“Joko, Mbak. Kaget aku,” jawabnya. “Kok sendu banget? Siang ini kan terang benderang?” Godaku. Joko mengulum senyum kecut, sebagian malu, sebagian penasaran padaku. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan otakku memerintahkan tangan kananku kembali tersodor ke depan wajahnya, sebuah kartu nama. “Eh, Mas Joko, kalau ada waktu telepon aku ya! Aku harus kejar waktu sekarang, ada rapat di daerah Sudirman.” Joko terpaku, mungkin dia pikir aku perempuan dungu. Semudah itu memberi kartu nama pada lelaki Jawa sederhana yang sedang melamun di bawah terik matahari Benhil.
Di sinilah aku, di bengkel sepeda tempatnya bekerja. Ada magnet di antara jarak kami yang berjeda hanya beberapa meter. Seolah ada tali laso dari matanya yang dilempar dan mengunci mati kakiku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan eksentriknya rasa ini telah melabuhkan jangkarnya, pada dua bola mata yang kini berbinar bahagia. “Mas Joko kampungnya di mana?” Dan obrolan pun mengalir bak derasnya sungai Citarum. Aku biarkan rintik hujan di kedai nasi padang di depan bengkelnya menahan kami lebih lama.
Just get up, it’s 2.18 am, my stomach hurts. My dear God, I am your humble servant, please let me be healthy, one more exam to beat and I still have to travel to Delhi on 15th. Yes, and get back to Aligarh on 16th to take care of my exit permit in FRO. I hope the last exam will be alright, as you know that this bloody mobile sticks with my hands since there’s a kind of flash ‘You-know-what-I-mean’ thingy. Hard to focus, young lady?
I can sesnse a beautiful atmosphere, but unfortunately i still feel like I am an alien in his life. I did not know anything about him. What I know is that there’s firework festival. Therefore It’s hard to concentrate on my Victorian Literature materials. But I think I will attempt Middlemarch again for the long answer and of course that aesthetic theory, Style by Walter Horatio Pater.
I think I need to post my appreciation on Pater’s Style, since he has such a counter-idea on didacticism promoted by the majority writers in his age. He wrote for the sake of art, no instructive message, no moral values. Art is made to please and to raise the sense of beauty. He also peomotes that famous twin-concept, where you can find dichotomy of good art and great art, the mix of mind and soul, the depiction of fact and sense of fact, the importance of scholarly conscience and scholarly attentiveness, and so on and so forth.
Enough said, I need to get back to my study. Thx for relieving my tumultous mind in this early morning. See you!
Kepalaku benang kusut,
Lalu lintas pikiran kian semrawut,
Pedih, kecut,
Rindu sudut,
Tempat kita berkelebat,
Luka dibebat.